Wednesday, November 26, 2014

Apakah saya seorang Bipolar?

Mendengar kata bipolar, pasti membuat kalian penasaran. Apa sih itu? Aku juga baru tau apa sih itu Bipolar Disorder.
Menurut searching mbah google, bipolar itu gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa depresi dan mania. Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yangberlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim.
Jelaskah?
Intinya gini, pengalaman pribadiku. Aku orangnya sangat moody, mksdnya gampang sekali berubah mood dengan drastis, misalnya aku kumpul sama teman-teman, lagi senang-senangnya, lagi ketawa-ketawa. Tiba-tiba tanpa disadari, moodku berubah jadi sedih, kecewa, ingin menangis. Tapi yang aku anehkan, aku slalu saja tidak tahu, apa sebabnya aku bisa sampai ingin menangis.
Setekah berbincang-bincang dengan mbak Irene, yang kebetulan beliau adalah founder Bipolar Center Indonesia, beliau bertanya apakah saya mengalami trauma dsb di masa lalu?
Aku rasa, aku tidak punya trauma apapun di masa lalu. Aku juga bingung, kenapa aku bisa sampai begini?
Sejak kecil aku orangnya selalu diem di rumah, gak mau kemana-mana, gak pernah main sama orang lain, dan sempat saat SMP saya mengalami bullying, yang sebenarnya masalah tsb sudah terselesaikan saat itu juga, tapi hingga kini, setiap aku memikirkan hal itu, aku merasa sangat tertekan.
Apakah aku termasuk salah satu dari Bipolar?

Saturday, August 9, 2014

Galau

Ada satu yang membuatku sedih
Hatiku teriris pedih
Aku ingin menangis
Kenapa harus menangis?

Bermacam perasaan bercampur di dalam jiwa
Gundah gulana mungkin yang kurasa
Kecewa dengan semua yang terjadi
Apakah memang begitu?

Anganku melayang jauh sekali ke angkasa
Pikiran berbaur dengan perasaan
Sepi...
Kenapa jadi sepi yang kurasakan

Kenapa keramaian berubah menjadi kesunyian
Kenapa semua kawan menjadi lawan
Kenapa tak ada seorang pun yang peduli
Kenapa semua orang tak menghiraukanku

Aku sendirian...
Terpenjara dalam kegalauan
Terkurung dalam kesendirian
Terperangkap di lembah tanpa tujuan

Kenapa aku jadi seperti ini
Padahal aku gak akan seperti ini
Kegalauan telah membuntukan pikiran
Telah menjauhkan dari kebenaran

Kenapa perasaan ini harus ada
Adakah jalan untukku keluar?

Apakah Harus Seperti Ini?

Apakah semua harus berakhir sudah
Dan berhenti sampai disini
Jangan paksakan aku mengiyakan inginmu
Bila kau tak indahkan semua mimpi tentang kita

Tak ada satupun manusia di muka bumi
Yang tak ingin di hargai
Ingin kau dan aku mungkin berbeda tapi kita masih bisa bicara dan saling mendengar

Bukan harus seperti ini?

Haruskah kita seperti ini?

Tuesday, January 14, 2014

Seharusnya Percaya

Jujur membuatku setba salah
Tak jujur membuatku semakin salah
Lalu harus bagaimana lagi
Agar kau terima sungguh ku tak berdusta

Sungguh matiku tak menyangka
Emosimu yang tak pernah kau jaga
Hingga kini tak dapat ku terima
Haruskah ku terluka agar kau bahagia

Cinta...
Harusnya kau percaya cinta pasti kan setia
Jika kau mengerti yang sebenarnya

Jangan pernah berpikir ku tak cinta
Semestinya kita jujur bicara

Tidakkah kamu ingat?

Kapankah aku bisa menatapmu lagi?
Engkau telah meninggalkanku tanpa ungkapan perpisahan sedikitpun
Tak ada sepatah katapun yang kau ucapkan dari mulutmu
Apalagi ciuman terakhirmu
Sungguh perasaan ini tak terlukiskan

Aku sadar bahwa saya memiliki hati yang tak menentu dan penuh kebencian, dan mata yang tatapannya tak searah serta keras kepal

Tidakkah engkau ingat? Alasanmu mencintaiku.
Kumohon ingatlah sekali lagi, saat-saat terakhir ketika engkau memikirkanku.
Atau sudahkah engkau menghapus diriku secara sempurna dari ingatanmu?

Wednesday, January 1, 2014

Kasih Sayang Orang Tua



          Di sebuah pinggir kota sore hari seorang ibu penjaja pecel sedang mengemasi barang dagangannya yang sudah habis. Kemudian datang seorang tukang becak dan membantu mengemasi dan menaikan barang ibu tersebut ke atas becaknya. Kedua orang tua itu adalah seorang suami istri yang setiap hari bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
          Sesampai di rumah sang anak laki-laki masih duduk di depan tv, andi namanya. Andi nampak tenang-tenang saja tidak membantu menurunkan barang-barang dagangan orangtuanya. Andi memang anak satu-satunya.
          Baru saja duduk dan beristirahat, Andi langsung berbicara “Mak, motorku sudah jelek, aku mau ganti yang baru, di sekolah malu sama teman-teman, dan juga motornya sangat boros”
Meskipun mereka kesusahan mereka selalu memperhatikan anak kesayangannya. “Tunggu sebulan lagi ya nak, nanti bapak dan ibu tak cari uang tambahan buat beli motormu”
          Hari berganti hari, si bapak bekerja siang dan malam, si ibu bekerja dari pagi sampai sore. Akhirnya sebulan mereka sudah bisa membelikan motor yang agak baru dan bagus untuk di pakai Andi anaknya.
          Begitu seterusnya sampai anaknya lulus kuliah dan bekerja di perusahaan terkemuka. Bapak dan ibu masih saja bekerja. Karena si Andi sudah bekerja, maka uang simpanan mereka di tabung. Suatu ketika Andi yang sudah lama bekerja memutuskan untuk berhenti dan membuka usaha baru. Tidak sungkan-sungkan dia meminta tambahan modal usahanya.
          Beberapa tahun kemudian Andi sudah menjadi orang sukses. Namun dia selalu lupa untuk menyisihkan sedikit uang kepada orang tuanya. Malah lebih akrab dan sering membantu teman-temannya atau relasi-relasinya dari pada membahagiakan kedua orang tuanya.
          Sampai akhirnya satu persatu orang tuanya meninggal. Andi masih sendiri dan tetap menikmati kekayaannya untuk diri sendiri.
          Pada suatu saat Andi bertemu dengan calon istrinya dan merencanakan pernikahan. Semua sudah siap, tinggal waktu pemberkatan Andi kebingungan karena kedua orang tuanya sudah tiada, sedangkan dia tidak tahu harus meminta kepada siapa untuk mendampingi dia menikah.
          Akhirnya dia pulang ke rumahnya, dia bertanya-tanya kepada tetangga sebelah dan menanyakan apakah ada mau mendampingi mereka menikah? Tetapi karena tetangga tahu kelakuan Andi mereka tidak mau, malah tetangganya memberi tahukan bahwa sebenarnya Andi itu anak angkat.
          Tetangga itu bercerita “dulu ada orang membuang bayi ke selokan pojok kota. Bapak dan Ibu kamu memang sudah lama tidak dikaruniai anak, ibu kamu yang setiap pagi berangkat berjualan menemukan kamu, dan akhirnya di rawat. Dulu waktu kecil kamu menderita demam dan sakit tinggi, namun karena dirawat dengan baik akhirnya kamu sekarang menjadi orang yang sehat dan cakep seperti sekarang ini”
          Terkejutlah Andi, ternyata dia sudah begitu tidak mempedulikan kedua orang tua angkatnya yang dari kecil sampai besar sudah membesarkan dan mendidiknya hingga sukses sekarang ini.
          Andi menyadari dan merenungkan, apalah arti semua kesuksesan dan kekayaan tersebut. Kalau orang yang mereka sayangi tidak bisa ikut merasakan kebahagiaan seperti dirinya. Jauh lebih besar adalah bisa memberikan kasih sayang dan cinta kepada mereka daripada memberikan harta dan kekayaan.
          Karena harta akan sirna ketika kita mati, tapi kasih sayang dan cinta akan tetap ada di hati selamanya. Dan apa yang bisa kita perbuat ketika orang-orang yang kita sayangi tetapi kita tidak bisa melakukan balasan apa-apa lagi ?
          Kekayaan, kesejahteraan, kebahagiaan akan abadi apabila kita bisa membalas kebaikan mereka yang telah mengasihi kita, karena mereka juga berperan serta dalam proses kesuksesan kehidupan kita ini

Janganlah menyombongkan diri



        Seorang anak laki-laki SD kelas 3 baru saja memenangkan sebuah medali sebagai pembaca terbaik di kelas. Terbuai oleh kesombongan ia menyombongkan diri di depan pembantu rumah, “Bibi, coba lihat, jika mau bibi bisa membaca sebaik saya”

        Pembantu itu mengambil buku, memandangnya dan akhirnya berkata dengan terbata-bata,”Nak, saya tidak bisa membaca.”

        Sombong seperti burung merak, anak kecil itu lari ke ruangan keluarga dan berteriak kepada ayahandanya, “Yah, bibi tidak bisa membaca sedangkan saya yang baru berumur 8 tahun aja sudah dapat medali untuk kehebatan membaca. Saya ingin tahu bagaimana sih perasaannya memandang buku tapi tidak bisa membaca.”

        Tanpa berkata sepatah kata pun sang ayah berabjak ketempat rak buku, mengambil sebuah buku, memberikannya ke anaknya lalu berkata, “Bibi merasa seperti ini,”
Buku itu ditulis dalam bahasa Jerman sehingga anak itu tidak mengerti dan tidak bisa membaca satu patah kata pun.

        Anak laki-laki kecil itu tidak akan pernah melupakan pelajaran hari itu. Bila perasaan sombong itu datang, dia akan segera mengingatkan dirinya, “Ingat, kamu tidak bisa membaca dalam bahasa Jerman”.